ilmu sejati al fatihah
Apapunalasan Anda untuk mencari artikel tentang ilmu kekayaan sejati rahasia hizib al fatihah, yang pasti kunjungan Anda di situs ini tidak akan sia-sia karena di halaman yang Anda buka dan baca ini memuat konten artikel yang lengkap yang berkaitan dengan informasi tentang ilmu kekayaan sejati rahasia hizib al fatihah yang sedang Anda cari.
ILMUHIKMA SEJATI Untuk Pemesanan Pelet Bulu Perindu Silahkan Hub/Sms 082164632944 PIN BBM : 29B41722 . Bulu Perindu Sukma Bulu Perindu Asli Kalimantan Minyak Bulu Perindu Asli Kalimantan Di dalam blog ini akan saya jelaskan tentang khasiat dari Bulu Perindu yang melegenda yang khasiat utamanya adalah sebagai media pengasihan atau pemikat lawan
RASASEJATI. Kajian Mitologi Supranatural . A. PROFIL; AMALAN DOA dan WIRID; Konsultasi; ILMU TERAPI FATIHAH » IJAZAH ILMU WIRID - TERAPY AL FATIHAH. Silahkan Bertanya & Berdiskusi dengan Sopan : Batalkan balasan. Ketikkan komentar di sini Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in: Email (wajib) (Alamat takkan pernah
Ilmuyang bermanfaat memang seharusnya diamalkan untuk kebaikan bukan untuk menuruti hawa nafsu, seperti halnya doa al fatihah syifa . Apapun sebutannya dan seburuk apapun anggapan masyarakat awam diluar sana terhadapnya, asalkan diamalkan dengan tujuan baik, doa al fatihah syifa pasti membawa kebaikan juga terlebih untuk anda.
ilmumakrifat al fatihah. Anda telah berada ditempat yang tepat, apa yang anda cari selama ini akan anda dapatkan disini. Ketika anda menemukan artikel saya, ITU BUKANLAH KEBETULAN. silahkan dibaca dan disimak dengan baik, karena ketika anda menemukan artikel saya, itu berarti tuhan sudah menggerakan anda untuk membaca infromasi ini, di akhir artikel kami akan berikan tawaran special khusus
Er Sucht Sie Frankfurt Am Main. إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ Arab-Latin Iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īnArtinya Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Al-Fatihah 4 ✵ Al-Fatihah 6 »Mau dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarangHikmah Mendalam Terkait Dengan Surat Al-Fatihah Ayat 5 Paragraf di atas merupakan Surat Al-Fatihah Ayat 5 dengan text arab, latin dan terjemah artinya. Ada beragam hikmah mendalam dari ayat ini. Terdokumentasikan beragam penjelasan dari beragam ahli tafsir terkait makna surat Al-Fatihah ayat 5, antara lain seperti tercantum📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi ArabiaKami mengkhususkan Engkau dengan ibadah, dankami hanya memohon pertolongan kepada Engkau saja dalam semua urusan kami Sebab semua urusan berada di tangan-Mu, tidak ada seorang pun selain mu yang memiliki sebesar biji sawi sekalipun darinya. Dan dalam ayat ini terkandung petunjuk bahwa seorang hamba tidak boleh melakukan sesuatu pun dari jenis-jenis ibadah seperti berdoa, Istighosah, menyembelih dan thowaf kecuali untuk Allah Semata, dan di dalamnya juga terkandung obat hati dari penyakit berupa bergantung kepada selain Allah, dan dari penyakit Ria, ujub dan sombong.📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid Imam Masjidil Haram5. Kami mempersembahkan segala jenis peribadatan dan ketaatan hanya kepada-Mu, dan kami tidak menyekutukan-Mu dengan siapapun. Hanya dari-Mu saja lah kami meminta pertolongan dalam semua urusan kami, karena di tangan-Mu lah segala macam kebaikan. Dan tidak ada penolong lain selain Engkau.📚 Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah5. Kesempurnaan dalam perhitungan, keagungan dalam mengatur, dan keindahan dalam membalas dan memuliakan kekasih-kekasih-Nya membuat Allah berhak diesakan dalam setiap ibadah. Oleh sebab itu, hanya kepada-Nyalah kita memohon pertolongan dan bersandar; sebab Dialah yang mengatur segala urusan makhluk-Nya. Dan termasuk dari pengaturan dan pemuliaan-Nya adalah Dia mengajarkan kepada kita bagaimana cara untuk mengesakannya dalam beribadah, sehingga kita dapat mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta meminta pertolongan-Nya. Dia juga mengajarkan bagaimana mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya إياك نعبد وإياك نستعينMau dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinahإِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ Yakni, kami mengkhususkan ibadah hanya untuk-Mu dan kami mengkhususkan pertolongan hanya kepada-Mu, kami tidak menyembah selain-Mu dan kami tidak meminta pertolongan selain-Mu. Dan makna secara bahasa dari ibadah adalah batas terjauh dari tunduk dan taat; sedangkan makna secara syar’i adalah sesuatu yang terkumpul didalamnya kesempurnaan cinta, tunduk, dan takut. Penggunaan kata ganti “kami” dalam ayat ini dari sisi kebahasaan bahasa Arab sebagai ungkapan dari orang yang berdo’a dan orang lain, dan bukan dimaksudkan sebagai penghormatan diri. Sedangkan kata ibadah didahulukan dari kata permintaan pertolongan karena ibadah merupakan wasilah/jalan untuk meminta pertolongan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas terntang tafsir dari ayat ini إياك نعبد yakni Wahai Rabb kami hanya kepada-Mu kami mengesakan dan takut, tak ada selain-Mu. وإياك نستعين dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan dalam menjalankan ketaatan-Mu dan dalam segala urusan kami, tak ada selain-Mu. Dan diriwayatkan dari Qatadah bahwa ia berkata Allah Ta’ala telah memerintahkan kalian agar ikhlas dalam beribadah kepada-Nya dan agar senantiasa memohon pertolongan dalam segala urusan kalian.📚 Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia1 . Muhammad bin 'Auf al-Hamshy berkata "suatu ketika aku melihat Ahmad bin al-Hawari melaksanakan shalat Isya', dia mengawali shalatnya dengan { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } sampai ketika ia membaca { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } , aku kemudian keluar menglilingi pembatas, kemudian aku kembali dan ternyata ia masih membaca ayat ini sampai aku tertidur, malam pun lewat sampai aku terbangun, dan ia masih membaca { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } sampai waktu subuh tiba". 2 . Ibnu mengatakan "Aku mengamati bahwa doa yang paling bermanfaat bagi seorang hamba adalah ketika ia memohon bantuan atas keridhoan Allah ta'ala, kemudian aku melihatnya ada pada surah al-Fatihah { إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }. 3 . Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat untuk hati seorang hamba daripada tahuid dan ikhlas dalam beragama untuk Allah, dan tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya baginya daripada kesyirikan, maka ketika seorang hamba menemukan hakikat keikhlasan yang itu adalah hakikat daripada { إيَّاكَ نَعْبُدُ } bersama dengannya hakikat tawakkal yang merupakan hakikat dari { وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } sesungguhnya ia telah menemukan sesuatu yang derajatnya lebih tinggi diatas apapun yang belum ditemukan oleh orang selainnya. 4 . Diantara manusia banyak yang menyandingkan dua sifat buruk ini dalam diri mereka yakni riya' dan 'ujub; ketika ia berbuat riya' maka ia telah mensekutukan atau menyandingkan sang pencipta dengan selainnya, dan ketika ia berbuat 'ujub maka ia telah menyandingkan sang pencipta dengan dirinya yang lemah, dan keduanya adalah sifat atau keadaan orang-orang yang menyombongkan diri, karena orang yang berbuat riya' tidak mngamalkan firman Allah { إيَّاكَ نَعْبُدُ } sedangkan orang yang berbuat 'ujub tidak merealisasikan firman Allah { وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }. 5 . Dalam ayat kata ibadah didahulukan sebelum isiti'anah, hal itu dikarenakan ibadah adalah hak Allah atas hamba-Nya, adapun isti'anah adalah keinginan setiap hamba, dan tabi'at kehidupan adalah seorang hamba mengutamakan apa yang menjadi penyebab diperolehnya ridho tuhannya sebelum memohon kepada-Nya sesuatu, dan itu merupakan sikap rendah diri dihadapan Allah, karena ibadah adalah sebab terkabulnya permintaan seorang hamba. 6 . Hati manusia dihadapkan dengan dua jenis penyakit yang berbahaya, jika ia tidak mampu mencegah keduanya maka penyakit itu akan menghantarkannya kepada kebinasaan yang pasti, yaitu riya' dan sombong, dan penawar yang terbaik untuk riya' adalah dengan { إيَّاكَ نَعْبُدُ }, sedangkan penawar untuk kesombongan adalah dengan { وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }. Sebagaimana yang juga disebutkan oleh Ibnu al-Qoyyim yang diriwayatkan dari gurunya Ibnu Taimiyyah rahimahullah, bahwasanya { إيَّاكَ نَعْبُدُ } menolak sifat riya', dan { وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } menolak kesombongan dari hati manusia. 7 . Seorang hamba butuh memohon pertolongan kepada Allah dalam mengerjakan perintah dan menghindari segala larangan dan sabar atas taqdir yang ditetapkan atasnya, baik ketika ia didunia dan ketika kematian menghampirinya serta apa yang akan terjadi padanya di alam barzakh dan ketika kiamat itu terjadi, dan tidak siapapun yang mampu memberinya pertolongan atas itu semua kecuali Allah, maka barang siapa yang dapat merealisasikan perkara isti'anah ini hanya kepada-Nya, niscaya Allah akan menolongnya. 8 . Segala upaya yang membatalkan jernihnya keikhlasan seseorang; tidak lain adalah upaya yang membatalkan perjanjian antara hamba dengan Allah, dan merupakan pengkhianatan terhadap-Nya, bagaimana tidak ? ketika kamu memutuskan kesaksian atas dirimu di pagi dan sore hari dengan { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } kemudian kamu berpaling dibelakangan-Nya kepada selain-Nya ! maka siapakah yang dapat melindungimu setelah itu dari azab Allah ? 9 . Seorang pentadabbur berkata "begitu banyak aku shalat dibelakang syaikh Abdurrahman ad-Dausary, dan aku tidak mengetahui berapa kali dia membaca surah al-Fatihah tanpa menangis, khususunya ketika ia membaca { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } . 10 . Seorang hamba tidak akan mampu mencapai kedudukan taufiq dan kebajikan hanya dengan hasrat, tetapi harus dengan meminta kepada siapa yang mampu mengahantarkannya kepada kedudukan itu, dan selalu merasa bahwa dia perlu dengan pertolongan itu, tetapi permohonann itu harus dengan hati dan lisan yang senantiasa didukung oleh segala warna ubudiyah qolbiyah dan badaniyah { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }.📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri SuriahKami khususkan kepadaMu, Ya Allah, ibadah dan permohonan pertolongan kami. Kami tidak akan menyembah dan meminta pertolongan kepada selain EngkauMau dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah{Hanya kepada Engkaulah kami menyembah} Hanya kepada Engkaulah kami mengkhususkan segala bentuk peribadatan {dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan} dan Hanya kepada Engkaulah kami mencari pertolongan dalam segala hal📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 HLafaz iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in Hanya kepada engkau kami menyembah dan hanya Kami memohon pertolongan Maksudnya kami menghususkan ibadah dan memohon pertolongan hanya kepada Engkau. dimaknai demikian mendahulukan suatu kata yang menjadi objek menunjukkan suatu pembatasan, yaitu menetapkan hal tersebut bagi yang disebutkan dan meniadakannya dari selainnya. maka seolah-olah berkata, “kami menyembahmu dan tidak menyembah selain dirimu, kami meminta pertolongan kepadamu tidak meminta pertolongan kepada selain diri-Mu”. Dan didahulukannya penyebutan ibadah daripada permintaan akan pertolongan adalah di antara bentuk mendahulukan penyebutan hal yang umum dari hal yang khusus. Serta perhatian dalam mendahulukan hak-hak Allah daripada hak hamba-nya. Ibadah adalah sebuah kata yang mencakup apa saja yang dicintai oleh Allah dan diridhoi-nya berupa perbuatan maupun perkataan baik yang nampak atau yang tersembunyi. dan memohon pertolongan adalah Bersandar kepada Allah dalam mendapatkan kemaslahatan dan menolak kemadorotan diiringi dengan keyakinan yang kuat kepadanya dalam mewujudkan semua itu. Melaksanakan ibadah kepada Allah dan memohon pertolongan kepadanya merupakan jalan bagi sebuah kebahagiaan yang abadi keselamatan dari segala kejahatan. maka tidak ada cara dalam mendapatkan keselamatan kecuali dengan melaksanakan kedua hal tersebut. Sesungguhnya sebuah ibadah itu dianggap sebagai ibadah apabila ibadah tersebut diambil dari contoh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang dilaksanakan dengan tujuan mencari wajah Allah Semata. Dengan kedua faktor ini jadilah perbuatan tersebut menjadi sebuah ibadah. Disebutkannya “permohonan pertolongan” setelah “ibadah”, padahal sebenarnya memohon pertolongan itu adalah bagian dari ibadah tersebut hal ini karena kebutuhan hamba dalam seluruh ibadah-ibadah mereka kepada meminta pertolongan kepada Allah, sebab bila Allah tidak menolongnya maka tidak akan terwujud untuknya sesuatu yang dikehendakinya dari pelaksanaan perintah maupun menghindari larangan.📚 Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid NabawiMakna kata Iyyaaka adalah dhomir kata ganti dalam posisi nashab, ditujukan untuk mengajak bicara satu orang. Na’budu artinya Kami ta’at kepada Mu dengan seluruh ketundukan, cinta, dan pengagungan. Nasta’iin artinya Kami memohon pertolongan-Mu untuk kami agar dapat menta’atiMu. Makna ayat Allah Ta’ala mengajari hamba-hambaNya tata cara bertawassul kepada-Nya agar Dia mengabulkan doa hamba-Nya. Yaitu dengan ucapanNya Pujilah Allah Ta’ala dan sanjunglah serta agungkanlah Dia. Berlakulah konsisten dengan hanya beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya. Mintalah pertolongan kepadaNya dan jangan meminta pertolongan kepada selainNya. Pelajaran dari Ayat 1. Adab dalam berdoa, ketika seseorang akan berdoa hendaklah memulai dengan memuji Allah, menyanjungNya, dan mengagungkanNya. Kemudian ditambah dengan mengucap shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam, setelah itu baru meminta apa yang dibutuhkan. Hal itu lebih dekat untuk terkabulnya doa. 2. Jangan menyembah selain Allah Ta’ala dan jangan meminta pertolongan dalam hal yang hanya mampu dilakukan oleh Allah, pent kepada dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang📚 Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibnu Katsir / Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et. IBADAH MENURUT BAHASA DAN ISTILAH SYARA’AT Menurut bahasa ibadah bermakna kehinaan. Dikatakan “Thariqun mu’abbad wa ba’iirun mu’abbad jalan yang diratakan dan unta yang dijinakkan, maksudnya ditundukkan. Adapun menurut istilah syar’i, ibadah adalah sebuah ibarat bagi terkumpulnya cinta, ketundukan dan rasa takut yang sempurna. FAEDAH DIHAHULUKAN DAN DIULANGI OBJEK SERTA FAEDAH ILTIFAAT PERPINDAHAN DARI KATA GANTI KE-3 MENJADI KE-2 Didahulukannya objek yaitu kalimat إِيَّاكَ dan setelah itu diulangi lagi, bertujuan untuk memberi perhatian dan pembatasan. Maksudnya “Kami tidak beribadah kecuali hanya kepada-Mu, dan kami tidak bertawakkal kecuali hanya kepada-Mu.” Inilah puncak kesempurnaan dalam taat. Agama ini secara keseluruhan kembali kepada dua makna di atas. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian Salaf, bahwa surat al-Fatihah adalah rahasia al-Qur’an dan rahasia al-Fatihah terletak pada [إياك نعبد وإياك نستعين] “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Penggalan pertama merupakan pernyataan berlepas diri dari kesyirikan. Sedangkan penggalan kedua merupakan sikap berlepas diri dari upaya dan kekuatan serta berserah diri kepada Allah . Makna seperti ini tidak hanya terdapat dalam satu ayat al-Qur’an saja, dalam ayat lain Allah berfirman وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” 123. قُلْ هُوَ الرَّحْمَٰنُ آمَنَّا بِهِ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ “Katakanlah "Dia-lah Allah yang Maha Penyayang Kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah Kami bertawakkal. kelak kamu akan mengetahui siapakah yang berada dalam kesesatan yang nyata". Al-Mulk29 Juga firman-Nya dalam ayat yang mulia ini, إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ “Hanya Engkaulah yang Kami sembah[6], dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.” Adanya perubahan bentuk gari orang ketiga kepada lawan bicara huruf kaf, karena ketika seseorang memuji Allah maka seolah-olah dia dekat dan hadir di hadapan Allah Ta’ala. Karena itu Allah berfirman إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ “Hanya Engkaulah yang Kami sembah[6], dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.” AL-FATIHAH ADALAH PETUNJUK AGAR KITA MEMUJI ALLAH, MAKA KITA WAJIB MEMBACANYA KETIKA SHALAT Ini merupakan dalil bahwasanya awal-awal surat al-Fatihah merupakan pemberitahuan dari Allah yang memberikan pujian kepada diri-Nya sendiri dengan berbagai sifat-Nya agar memuji-Nya dengan pujian tersebut. Oleh karena itu tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca al-Fatihah di dalamnya, sedangkan ia mampu melakukannya, sebagaimana hadits yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Ubaidah bin as-Shamit , beliau berkata “Rasulullah bersabda لَا صَلاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ “Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca al-Fatihah.” Dalam Shahih Muslim diriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah , dari Rasulullah , baginda bersabda قَالَ اللهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}، قَالَ اللهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}، قَالَ اللهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}، قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي - وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي - فَإِذَا قَالَ {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ}قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. “Allah berfirman 'Aku membagi shalat antara Aku dengan hambaKu setengah-setengah, dan hambaku mendapatkan apa yang dia minta. Apabila seorang hamba membaca; 'Alhamdulillahi rabbil 'alamin.’ Allah menjawab; Hamba-Ku telah memuji-Ku.’ ketika seorang hamba membaca; Arrahmaanir rahiim.’ Allah berfirman; Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.’ ketika seorang hamba membaca; Maaliki yaumid diin.’ Allah berfirman; Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.’ ketika seorang hamba membaca; Iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin.’ Allah berfirman; Inilah bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, sedangkan bagi hamba-Ku apa yang di mintanya.’ ketika seorang hamba membaca; Ihdinash shiraathal mustaqiim, shiraathal ladziina an'amta 'alaihim ghairil maghdluubi 'alaihim waladl dllaallliin.’ Allah berfirman; Inilah bagian dari hamba-Ku, dan baginya apa yang di minta.’" TAUHID ULUHIYAH Imam ad-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas , beliau berkata [إِيَّاكَ نَعْبُدُ] “Hanya kepada-Mu kami beribadah,” maksudnya hanya Engkau semata yang kami esakan, kami takuti dan kami harapkan wahi Rabb kami, bukan selain-Mu.” [وَإيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ] Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan,” karena ibadah kepada-Nya merupakan tujuan. Meminta pertolongan merupakan sarana untuk mendapatkannya, dan perkara yang didahulukan adalah perkara yang lebih penting dan seterusnya. Wallahu a’alam. PENYEBUTAN NABI SEBAGAI HAMBA YANG MERUPAKAN KEDUDUKAN TERTINGGI Allah telah menyebut Nabi sebagai hamba-Nya yang merupakan bukti baginda memiliki kedudukan mulia. Allah berfirman الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُ عِوَجًا ۜ “segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al kitab Al-Quran dan Dia tidak Mengadakan kebengkokan di dalamnya.” Al-Kahf1 Firman-Nya وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ “Dan bahwasanya tatkala hamba Allah Muhammad berdiri menyembah-Nya mengerjakan ibadat.” Al-Jinn19 سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam.” Al-Israa1 Allah menyebut nabi-Nya dengan sebutan hamba ketika menurunkan kepadanya al-Qur’an, ketika baginda berdakwah dan ketika diperjalankan pada malam Isra’. BIMBINGAN AGAR BERIBADAH KETIKA DADA TERASA SEMPIT Allah membimbing Rasulullah untuk senantiasa menjalankan ibadah ketika hati merasa sesat akibat pendustaan orang-orang yang menentangnya. Allah berfirman وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ “Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud shalat. Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini ajal.” Al-Hijr97-99📚 Tafsir Juz 'Amma / Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, ulama besar abad 14 HFirman Allah Ta’ala } إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ{ “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” QS. Al-Fatihah4 إِيَّاكَ [Iyaaka] “Hanya kepada Engkau” Kedudukannya dalam ilmu nahwu sebagai maf’ul bih yang dimajukan, Amilnya adalah نَعْبُدُ na’budu”Kami menyembah”. Tujuan dikedepankan dari amilnya untuk menghasilkan pembatasan makna, maka dari itu maknanya adalah Kami tidak menyembah kecuali hanya kepada Engkau. Maf’ul bih di sini dalam bentuk terpisah dengan amilnya karena tidak memungkinkan untuk disambung dengannya. نَعْبُدُ [Na’budu]“Kami menyembah” Maknanya adalah kami tunduk kepada-Mu dengan ketundukan yang sempurna. Oleh karena itu, anda akan mendapati orang-orang yang beriman meletakkan anggota badan yang paling mulia yakni kepala di tempat yang setara dengan kaki sebagai bentuk ketundukan kepada Allah Azza Wa Jalla, sujud di atas tanah, bahkan jidat pun menyapu debu, semua itu dilakukan atas dasar ketundukan kepada Allah Azza wa Jalla. Andai ada seseorang yang berkata Saya akan memberikanmu dunia seluruhnya tapi bersujudlah kepadaku” seorang mukmin tidak akan menurutinya selamanya, karena ketundukan hanyalah ditujukan kepada Allah Azza Wa Jalla saja. Ibadah juga mencakup segala perbuatan yang diperintah oleh Allah, dan meninggalkan segala larangan-Nya karena orang yang belum melaksanakan itu semua maka ia tidak disebut orang yang menyembah, jika ia tidak melakukan perkara yang diperintahkan maka ia belum dikatakan hamba sejati dan jika belum meninggalkan segala larangan ia juga belum dikatakan hamba sejati, Hamba yang sejati adalah yang sesuai dengan keinginan syar’i yang ditentukan oleh Allah yang ia sembah. Karena ibadah mengharuskan seorang insan menegakkan setiap yang diperintahkan kepadanya dan meninggalkan semua yang dilarang kepadanya, dan semua itu tidak mungkin dapat terlaksana kecuali tanpa bantuan dari Allah, oleh karenanya, Allah Ta’ala berfirman } وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ{ “Dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” QS. Al-Fatihah4 Maknanya adalah kami tidak akan memohon pertolongan kecuali hanya kepada Engkau dalam melaksanakan ibadah dan kegiatan lainnya. Sedangkan al-Isti’anah artinya adalah meminta pertolongan, dan Allah Azza Wa Jalla mengumpulkan antara ibadah dan isti’anah atau dengan tawakkal pada beberapa ayat dalam al-Qur’an, karena ibadah yang sempurna tidak akan terlaksana kecuali dengan pertolongan Allah, bersandar, dan bertawakkal kepada-Nya. Faedah Di antara faedah ayat ini 1. Pemurnian ibadah hanya kepada Allah, ini sesuai firman-Nya } إِيَّاكَ نَعْبُدُ{ “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah” QS. Al-Fatihah4 Ditunjukkan dengan didahulukannya ma’mul dari Amilnya didahulukannya Iyaka dari na’abudu. 2. Pemurnian isti’anah permintaan pertolongan hanya kepada Allah Azza Wa Jalla, ini berdasarkan firman-Nya } وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ{ “Dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” QS. Al-Fatihah4 Ditunjukkan dengan didahulukannya ma’mul. Jika ada yang bertanya Bagaimana bisa dikatakan harus memurnikan isti’anah hanya kepada Allah padahal dalam ayat lainnya Allah Ta’ala berfirman }وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى{ “Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa” QS. Al-Maaidah2 di dalamnya ada penetapan pertolongan selain dari Allah. Nabi shallallaahu alaihi wa sallam juga bersabda وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهِ أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهِ مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ “ Engkau membantu seseorang saat menaiki tunggangannya, engkau mengambilkan dan mengangkat perbekalannya untuknya adalah sedekah ” 1 Jawabannya Meminta bantuan ada dua macam Pertama Meminta bantuan dengan bersandar sepenuhnya, maksudnya adalah anda tergantung pada Allah Azza Wa Jalla dan berlepas dari daya dan kekuatan anda. Yang seperti ini khusus untuk Allah Azza Wa Jalla. Kedua Meminta bantuan yang bermakna ikut serta dalam pekerjaan yang hendak engkau kerjakan, yang seperti ini dibolehkan selama orang yang dimintai bantuan masih hidup dan mampu membantu, karena ini bukanlah ibadah. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman { وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى } “Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa” QS. Al-Maaidah2 Jika ada yang bertanya Apakah meminta bantuan kepada makhluk dibolehkan dalam kondisi apapun? Jawabannya Tidak, Meminta bantuan kepada makhluk hanya dibolehkan saat orang yang dibantu mampu membantu. Namun jika ia tidak mampu membantumu, maka anda tidak diperbolehkan meminta bantuan kepadanya, seperti meminta bantuan kepada penghuni kubur, hal ini haram dilakukan, bahkan termasuk syirik akbar. Karena penghuni kubur tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri sedikit pun. Bagaimana mungkin bisa menolongnya?! Seperti meminta bantuan kepada yang ghaib tidak hadir pada perkara yang tidak mampu dilakukan. Misalnya meyakini bahwa ada wali di bagian timur dunia sana mampu membantunya dalam menyelesaikan perkara penting di negeri tempat tinggalnya. Ini juga adalah syirik akbar. Karena yang dimintai bantuan tidak akan mampu membantunya sedangkan ia berada ditempat yang sangat jauh di sana. Jika ada yang bertanya Bolehkan meminta bantuan sepada manusia pada hal yang diperbolehkan? Jawabannya Sebaiknya tidak meminta bantuan kecuali jika memang dibutuhkan atau jika ia tahu bahwa yang dimintai bantuan dimudahkan untuk memenuhinya lalu meminta bantuan agar mengantarkan rasa senang kepadanya. Dan hendaknya yang dimintai bantuan bukan dalam perkara dosa dan melampaui batas untuk tidak menerima permintaan itu.📚 An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-SyawiSurat Al-Fatihah ayat 5 Ketika dengan keagungan ini, sebagai raja dan memiliki kasih sayang, maka Allah berhak untuk di ibadahi, yaitu mengkhususkan ibadah untuk-Nya dan permohonan dalam setiap urusan mereka makhluk dalam urusan keduniaan dan akhirat, dan oleh karena itu tidak diperkenankan untuk beribadah berpaling dari segala macam bentuk ibadah seperti doa, istighatsah kepada siapapun selain kepada Allah saja. Begitu juga tidak diperkenankan meminta pertolongan kepada selain Allah dari urusan yang tidak mampu dari selain Allah, begitu juga tidak diperkenankan bersandarnya hati dengan siapapun selain Allah, dan ini semua tidaklah menafikan sebuah sebab yang harus ditempuh. Telah lalu bahwasanya Allah memerintahk untuk beribadah dengan cara meminta kepada-Nya karena pentingnya hal tersebut, dan karena tujuan diciptakannya jin dan manusia adalah karena sebab ibadah, Allah berfirman Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku Adz Dzariyat 56, berkata Ibnu Taimiyyah Ibadah adalah sebuah nama bagi seluruh apa yang Allah cintai dan ridhai dari ucapan dan amalan batin mapun yang dzahir. Dan Allah mengulangi kata iyyaka sebagai pengkhususan ibadah dan meminta pertolongan hanya kepada-Nya dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, diambil dari kata 'ibaadah yang artinya kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena keyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya disertai rasa cinta dan berharap kepada-Nya. Ditambahkan rasa cinta, karena landasan yang harus ada pada seseorang ketika beribadah itu ada tiga rasa cinta kepada Allah Ta’ala, rasa takut dan tunduk kepada Allah Ta’ala dan rasa berharap. Oleh karena itu, kecintaan saja yang tidak disertai dengan rasa takut dan kepatuhan, seperti cinta terhadap makanan dan harta, tidaklah termasuk ibadah. Demikian pula rasa takut saja tanpa disertai dengan cinta, seperti takut kepada binatang buas, maka itu tidak termasuk ibadah. Tetapi jika suatu perbuatan di dalamnya menyatu rasa takut dan cinta maka itulah ibadah. Dan tidaklah ibadah itu ditujukan kecuali kepada Allah Ta'ala semata. Dalam ayat ini terdapat dalil tidak bolehnya mengarahkan satu pun ibadah seperti berdo'a, ruku', sujud, thawaf, istighatsah/meminta pertolongan, berkurban dan bertawakkal kepada selain Allah Ta'ala. Nasta'iin minta pertolongan, terambil dari kata isti'aanah mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri. Dalam ayat ini terdapat obat terhadap penyakit ketergantungan kepada selain Allah Ta'ala, demikian juga obat terhadap penyakit riya', 'ujub bangga diri dan sombong. Disebutkannya isti'anah kepada Allah Ta'ala setelah ibadah memberikan pengertian bahwa seseorang tidak dapat menjalankan ibadah secara sempurna kecuali dengan pertolongan Allah Ta'ala dan menyerahkan diri kepada-Nya. Ayat ini menunjukkan lemahnya manusia mengurus dirinya sendiri sehingga diperintahkannya untuk meminta pertolongan kepada-Nya Berdasarkan ayat ini juga bahwa beribadah dan meminta pertolongan kepada-Nya merupakan sarana memperoleh kebahagiaan yang kekal dan terhindar dari keburukan. Perbuatan dikatakan ibadah jika diambil dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan diniatkan ikhlas karena Allah Ta'ala. Perlu diketahui bahwa isti'anah meminta pertolongan terbagi dua - Isti’anah tafwidh, meminta pertolongan dengan menampakkan kehinaan, pasrah dan sikap harap, ini hanya boleh kepada Allah saja, syirk hukumnya bila mengarahkan kepada selain Allah. - Isti’anah musyarakah, meminta pertolongan dalam arti meminta keikut-sertaan orang lain untuk turut membantu, maka tidak mengapa kepada makhluk, namun dengan syarat dalam hal yang mereka mampu membantunya.📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Al-Fatihah Ayat 5Atas dasar itu semua, hanya kepada engkaulah kami menyembah dan beribadah dengan penuh ketulusan, kekhusyukan, dan tawakal, dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan dalam segala urusan dan keadaan kami, sambil kami berusaha keras. Kami memohon, tunjukilah kami jalan yang lurus, dan teguhkanlah kami di jalan itu, yaitu jalan hidup yang benar, yang dapat membuat kami bahagia di dunia dan di akhirat, serta dapat mengantarkan kami menuju dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang Demikianlah kumpulan penjabaran dari beragam ahli tafsir terhadap isi dan arti surat Al-Fatihah ayat 5 arab-latin dan artinya, semoga bermanfaat untuk kita. Support syi'ar kami dengan memberi hyperlink ke halaman ini atau ke halaman depan Artikel Paling Banyak Dilihat Nikmati banyak materi yang paling banyak dilihat, seperti surat/ayat Ar-Rahman, Shad 54, Al-Ikhlas, Al-Kahfi, Al-Kautsar, Do’a Sholat Dhuha. Serta Al-Mulk, Asmaul Husna, Al-Waqi’ah, Al-Baqarah, Ayat Kursi, Yasin. Ar-RahmanShad 54Al-IkhlasAl-KahfiAl-KautsarDo’a Sholat DhuhaAl-MulkAsmaul HusnaAl-Waqi’ahAl-BaqarahAyat KursiYasin Pencarian an nur ayat 2 latin, surat almulk, al zalzalah latin, surat al fil dan artinya, surat al kahfi lengkap Dapatkan amal jariyah dengan berbagi ilmu bermanfaat. Plus dapatkan bonus buku digital "Jalan Rezeki Berlimpah" secara 100% free, 100% gratis Caranya, salin text di bawah dan kirimkan ke minimal tiga 3 group WhatsApp yang Anda ikuti Silahkan nikmati kemudahan dari Allah Ta’ala untuk membaca al-Qur’an dengan tafsirnya. Tinggal klik surat yang mau dibaca, klik nomor ayat yang berwarna biru, maka akan keluar tafsir lengkap untuk ayat tersebut 🔗 *Mari beramal jariyah dengan berbagi ilmu bermanfaat ini* Setelah Anda melakukan hal di atas, klik tombol "Dapatkan Bonus" di bawah
ABSTRAK Memahami problematika kehidupan manusia akan tampak dari ekspresi emosi seseorang saat menghadapi situasi yang tidak diinginkannya. Agar seseorang mampu dengan mudah menyelesaikan problematika tersebut, orang itu harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang psikologinya sendiri. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan sistem psikologi manusia berdasarkan kajian tentang surat Al-Fatihah dengan kajian literatur. Kajian ini dilakukan dengan melakukan perbandingan kajian tafsir Al-Fatihah dengan choice theory dari William Glasser. Hasilnya menunjukkan bahwa Al-Fatihah dengan berbagai keistimewaannya mampu menjelaskan tentang psikologi manusia sebagai sebuah sistem yang terdiri dari input, proses, output, dan dampak yang menjelaskan bahwa kejiwaan manusia sebagai sebuah sistem psikologi untuk mencapai kebahagiaan yang sebenarnya. Implikasi dari kajian ini akan merombak definisi terkait kesehatan mental maupun gangguan mental serta metode intervensi psikologi khususnya konseling berbasis psikologi Al-Fatihah. ABSTRACT Understanding the problem of human life will be seen from the expression that exists. In order for a person to solve the problem, the person must have proper knowledge of his own psychology. This article aims to explain the human psychology system based on valuing the letter of Al-Fatihah by literature review. This study was conducted by camparing Al-Fatihah commentary with choice theory of William Glasser. The result shows that Al-Fatihah with its various features is able to explain about human psychology as a system consisting of inputs, processes, outputs, and impacts factors. The impact of this sistem explain that human psychology system which is running well will lead to achieve the human true happiness. The implications of this study criticize the mental health and mental disorders concept and it could be usefull as a method used in counseling psychology based on Al-Fatihah psychology. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Jurnal Psikologi Islam, Vol. 4, No. 2 2017 107—120 107 PSIKOLOGI AL-FATIHAH Solusi untuk Mencapai Kebahagiaan yang Sebenarnya Eko Hardi Ansyah Universitas Muhammadiyah Sidoarjo ekohardiansyah Cholichul Hadi Universitas Airlangga Surabaya ABSTRAK Memahami problematika kehidupan manusia akan tampak dari ekspresi emosi seseorang saat menghadapi situasi yang tidak diinginkannya. Agar seseorang mampu dengan mudah menyelesaikan problematika tersebut, orang itu harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang psikologinya sendiri. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan sistem psikologi manusia berdasarkan kajian tentang surat Al-Fatihah dengan kajian literatur. Kajian ini dilakukan dengan melakukan perbandingan kajian tafsir Al-Fatihah dengan choice theory dari William Glasser. Hasilnya menunjukkan bahwa Al-Fatihah dengan berbagai keistimewaannya mampu menjelaskan tentang psikologi manusia sebagai sebuah sistem yang terdiri dari input, proses, output, dan dampak yang menjelaskan kejiwaan manusia sebagai sebuah sistem psikologi untuk mencapai kebahagiaan yang sebenarnya. Implikasi dari kajian ini akan merombak definisi terkait kesehatan mental maupun gangguan mental serta metode intervensi psikologi khususnya konseling berbasis psikologi Al-Fatihah. Kata Kunci Gangguan mental, Kesehatan mental, Konseling berbasis Psikologi Al-Fatihah, Psikologi Al-Fatihah PENDAHULUAN Problematika kehidupan, apapun bentuknya akan terlihat dari ekspresi emosi seseorang saat menghadapinya. Emosi positif ataukah negatif. Apakah seseorang mampu menikmati hidup ataukah menderita dalam hidup akan tampak dari ekspresi emosi positif atau negatifnya sehari-hari. Individu bisa mengevaluasinya sendiri melalui pertanyaan tentang frekuensi, durasi, dan intensitas dari emosi mana yang setiap hari mewarnai hidup, sebagaimana memahami frekuensi, durasi, dan intensitas emosi bisa digunakan untuk mengukur tingkat emosi amarah seseorang Beck & Fernandez, 1998. Frekuensi merujuk pada seberapa sering emosi tersebut muncul. Durasi menunjukkan seberapa lama emosi tersebut terjadi. Sedangkan intensitas, seberapa kuat emosi tersebut dialami oleh seseorang. Contoh emosi positif adalah bahagia. Dalam sehari, seberapa sering kita merasa bahagia? frekuensi; saat kita merasa bahagia dalam sehari, berapa lama bahagia tersebut muncul? durasi; dalam sehari, saat kita bahagia, seberapa kuat perasaan tersebut kita alami? Intensitas. Jika dibandingkan dengan emosi negatif, contoh marah Dalam sehari, seberapa sering kita marah? frekuensi; saat kita marah, berapa lama marah tersebut muncul? durasi; dalam sehari, saat kita marah, seberapa kuat perasaan tersebut kita alami? Intensitas. Nah sekarang, mana yang lebih Jurnal Psikologi Islam, Vol. 4, No. 2 2017 107—120 108 dominan, emosi positif ataukah negatif? Semakin dominan emosi negatif muncul menunjukkan semakin menderitanya kita dalam hidup. Sebaliknya, semakin dominan emosi positif atau kebahagiaan, kita akan semakin merasakan nikmatnya hidup ini. Apakah ini yang kita inginkan? Saya yakin semuanya akan memilih emosi positif yang mendominasi kehidupan kita. Namun kenyataannya tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan kita di jaman ini didominasi dengan emosi negatif, di banyak konteks kehidupan. Dalam konteks ekonomi, sosial, budaya, bahkan politik Gautama, 2016. Yang lebih miris adalah saat emosi negatif ini sudah mendominasi dunia pendidikan kita. Sudah banyak kasus kekerasan yang terjadi di sekolah, baik itu dilakukan oleh guru pada siswa, ataupun dalam bentuk bullying sesama siswa 2014. Semua itu tentunya dilakukan dengan ekspresi emosi negati, misalnya marah. Padahal pendidikan adalah konteks penting dalam membangun karakter siswa, termasuk dalam membangun jiwa entrepreneurship yang saat ini sedang digalakkan pemerintah dalam melaksanakan Masyarakat Ekonomi ASEAN MEA Hadi, Wekke, & Cahaya, 2015. Alquran sebagai pedoman hidup orang muslim sebenarnya sudah memberikan solusi bahwa seorang muslim akan senantiasa diliputi kebahagiaan, kesabaran, dan semangat hidup yang tinggi. Emosi positif ini jelas dapat kita temukan dalam surat Al-Fatihah. Lantas apa hubungan surat Al-Fatihah dengan pilihan emosi positif. Hamka 1982 menyampaikan bahwa surat Al-Fatihah memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan surat yang lain. Yang pertama dia disebut dengan fatihatul kitab atau pembukaan kitab, karena kitab Alquran dimulai atau dibuka dengan surat ini. Yang kedua surat Al-Fatihah merupakan bacaan wajib dalam sholat lima waktu sehingga menjadi tidak syah sholat yang tidak membaca surat ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Bukhori – Muslim “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Faatihatul Kitaab Al Fatihah” HR. Bukhari dan Muslim. Keistimewaan yang ketiga adalah surat Al-Fatihah ini adalah satu surat yang pertama kali diturunkan secara lengkap kepada Nabi Muhammad SAW. Meskipun lima ayat pertama dari surat al-alaq terlebih dahulu turun, kemudian pangkal surat ya ayyuhal muddatstsir, kemudian ya ayyuhal muzzammil, namun turunnya ayat-ayat tersebut terpotong-potong. Hal ini menunjukkan bahwa makna surat Al-Fatihah secara lengkap tidak bisa dibuat terpotong-potong perayat tapi satu kesatuan dalam satu surat. Yang keempat Al-Fatihah dianggap sebagai tujuh yang diulang-ulang. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Hijr ayat 87 menurut Ibnu Katsir. Karena surat Al-Fatihah dengan ketujuh ayatnya selalu diulang-ulang tiap-tiap rakaat sholat, fardhu maupun sunnah. Yang kelima, dia disebut sebagai ummul kitab oleh Imam Bukhari seperti yang disebutkan dalam permulaan tafsirnya karena dia yang pertama kali ditulis dalam semua mushaf dan yang mulai dibaca dalam sholat. Yang keenam Al-Fatihah disamakan dengan sebutan dengan al-waqiyah pemelihara dari kesesatan karena surat ini mencukupi surat yang lain, sedang surat-surat yang lain tidak mencukupi kalau tidak bertali dengan nya. Disebut juga dengan surat al-kanz perbendaharaan, al-wafiyah yang Jurnal Psikologi Islam, Vol. 4, No. 2 2017 107—120 109 melengkapi, al-hamd puji-pujian, dan as shalah sholat. Sedangkan yang ketujuh adalah di dalam surat Al-Fatihah terdapat pokok ajaran Islam yang sejati, yang menjadi pokok dari segala pelajaran, yaitu Tauhid, telah menjadi isi dari ayat-ayatnya, mulai dari yang pertama hingga yang ketujuh. Berdasarkan keistimewaan-keistimewaan dari surat Al-Fatihah tersebut dan sesuai dengan firman Allah dalam surat al-baqarah ayat 2 bahwa Alquran merupakan petunjuk bagi hambaNya yang bertaqwa. Yang berarti, “Kitab Alquran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,” QS. Al-Bawarah 2. Dalam surat shad ayat 29 juga menunjukkan bahwa ada banyak berkah di dalam A-Qur’an jika kita mau memperhatikan, membaca, memahami supaya mendapat pelajaran jika kita ingin menggunakan pikiran kita. Yang artinya, “Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” QS. Shad 29. Demikian pula dalam surat yunus ayat 57 bahwa Alquran merupakan pelajaran untuk menyembuhkan penyakit-penyakit yang berada di dalam dada manusia dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” QS. Yunus 57. Oleh karena itu, mempelajari surat Al-Fatihah adalah suatu studi penting yang akan membawa kita kepada terhindarnya emosi negatif yang membawa pada penderitaan hidup, dan membawa kita kepada kebahagiaan yang membawa kita pada kenikmatan hidup sebagaimana bunyi Firman Allah dalam surat Al-Fatihah ayat 7 "yaitu Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat". QS. Al-Fatihah 7 Choice theory merupakan teori psikologi yang dikemukakan oleh William Glasser 11 Mei 1925 – 23 Agustus 2013. Choice theory adalah suatu cara untuk mencapai kebebasan individual personal freedom dengan membuat keputusan yang bertanggung jawab yang menjelasan perilaku manusia berdasarkan motivasi internal Glasser, 1998. Terbentuknya perilaku manusia diawali dengan adanya 5 kebutuhan dasar Basic needs, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan mencintai dan dicintai, kebutuhan untuk berkuasa, kebutuhan untuk menjadi orang yang bebas, dan kebutuhan untuk bersenang-senang. Kebutuhan ini sepanjang hidup manusia ada yang terpenuhi dan yang tidak berdasarkan persepsi seorang terhadap dunianya perceived world kemudian menjelma menjadi the quality world atau dunia kualitas. Seorang individu kemudian akan membandingkan antara dunia yang dipersepsikannya apakah sesuai dengan dunia kualitanya Comparing place. Upaya ini pasti akan menghasilkan kesejangan yang akan memicu seseorang untuk berperilaku total behavior. Dalam konsep perilaku total ini, Glasser secara gamblang menyampaikan bahwa ada empat komponen dalam perilaku manusia ini, yaitu perasaan feeling, fisiologi physiology, Jurnal Psikologi Islam, Vol. 4, No. 2 2017 107—120 110 pikiran thinking, dan tindakan acting. Namun, masing-masing ini berhubungan seperti sebuah sistem dimana perasaan dan fisiologi adalah output dari pilihan seseorang atas apa yang dipikirkan dan tindakannya. Penulis melihat bahwa pendapat William Glasser sebagai sebuah sistem yang memiliki elemen input, proses, output, dan dampak. Inputnya adalah kebutuhan dasar, prosesnya melalui quality world, perceived world, dan comparing place. Adapun ouputnya adalah pikiran, dan tindakan. Sedagkan terakhir dampaknya adalah pada perasaan dan fisiologis seseorang. Namun, penulis melihat ada kesenjangan yang cukup lebar untuk menjawab dimana posisi Allah sebagai Tuhan yang Maha berkehendak terhadap perilaku manusia dari teori ini. Choice theory belum menyinggung tentang eksistensi Tuhan, walaupun ada konsep kebutuhan mencintai dan dicintai yang bisa diarahkan pada objek Tuhan dalam diri seseorang. Di sisi lain, Allah menempatkan Al-Fatihah memiliki banyak keistimewaan dan mewajibkannya untuk dibaca pada perintah agama Islam yang paling penting, yaitu sholat. Ada 17 rakaat wajib sholat dalam sehari semalam dan sholat seharusnya juga berpengaruh terhadap perilaku seseorang mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Rumusan masalahnya adalah bagaimana konsep Al-Fatihah sebenarnya menjelaskan tentang psikologi manusia, bagaimana konsep kesehatan mental serta gangguan mental yang ditawarkan oleh surat Al-Fatihah serta bagaimanah implementasi konsep psikologi Al-Fatihah ini dalam proses konseling. METODE Untuk menjawab masalah penelitian tersebut, penulis melakukan literatur review terhadap tafsir yang menjelaskan tentang Al-Fatihah, khususnya tafsir al-azhar Hamka, 1982. Penulis kemudian membandingkan kajian Al-Fatihah ini dengan sistem psikologi dari choice theory menurut William Glasser dengan menggunakan empat elemen sistem, yaitu input, proses, output, dan impact. Dengan menggunakan empat elemen ini, peneliti menganalisis kandungan surat Al-Fatihah terhadap urusan psikologi seseorang. HASIL ANALISA INPUT Proses Output Impact Dimensi Kognitif Keyakinan akan sifat AllahMaha Pengasih dan PenyayangTuhan Penguasa Alam SemestaPenguasa Hari PembalasanDimensi Perilaku Menyembah AllahDimensi Komunikasi Memohon pertolonganJalan yang lurus KebahagiaanTidak marahSemangat tinggi untuk belajar Jurnal Psikologi Islam, Vol. 4, No. 2 2017 107—120 111 Pengertian Psikologi Al-Fatihah Kebahagiaan adalah bahan kajian yang dikembangkan dalam ilmu psikologi kontemporer saat ini, yaitu psikologi positif. Menurut Seligman Presiden Asosiasi Psikologi Amerika tahun 1998, Psikologi bukan hanya studi tentang kelemahan dan kerusakan; psikologi juga adalah studi tentang kekuatan dan kebajikan. Pengobatan bukan hanya memperbaiki yang rusak; pengobatan juga berarti mengembangkan apa yang terbaik yang ada dalam diri kita.” Misi Seligman ialah mengubah paradigma psikologi, dari psikologi patogenis yang hanya berkutat pada kekurangan manusia ke psikologi positif, yang berfokus pada kelebihan manusia. Dimana untuk mengkaji hal tersebut, Seligman menyampaikan konsep tentang pentingnya kebahagiaan bagi manusia yang memiliki banyak pengaruh terhadap kualitas hidup manusia. Di dalam surat Al-Fatihah, sebenarnya tercakup apa yang yang menjadi tujuan dari Seligman tentang pentingnya kebahagiaan bagi manusia dan pengaruhnya bagi kualitas hidup manusia. Dengan menggunakan analisis sistem, mulai dari input, process, ouput, dan impact, justru di dalam surat Al-Fatihah, kebahagiaan adalah sesuatu yang seharusnya menjadi hak manusia. Yang menegaskan bahwa manusia sebagai makhluk Allah, seharusnya mampu merasakan nikmat Allah, nikmat hidup, kebahagian baik didunia maupun di kehidupan setelah mati. Al-Fatihah sudah menjelaskan bahwa kebahagiaan merupakan sebuah dampak dari sistem psikologi manusia. Surat Al-Fatihah juga menjelaskan komponen-komponen psikologi seperti perasaan, tindakan, komunikasi, dan pikiran. Kebahagiaan yang dijelaskan oleh Al-Fatihah adalah kebahagiaan yang sempurna, yaitu kebahagiaan yang diikuti dengan dua perasaan yang lain. Dua perasaan tersebut adalah tidak adanya emosi marah, dan hadirnya semangat belajar menjadi lebih baik. Oleh karena itu, diambillah terminologi psikologi Al-Fatihah, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari kejiwaan manusia sebagai sebuah sistem psikologi untuk mencapai kebahagiaan yang sebenarnya. Sistem Psikologi Manusia Ibaratkan sebuah mobil, psikologi manusia memiliki sebuah sistem yang terdiri dari input, proses, hasil, dan dampak. Dalam sebuah mobil, inputnya adalah bahan bakar, prosesnya adalah pengapian, sedangkan hasilnya adalah gaya dorong mesin mobil. Dampak dari gaya dorong mesin tersebut, mobil bisa bergerak. Semakin kuat dorongan tersebut, semakin cepat mobil bergerak. Semakin cepat mobil bergerak, juga semakin nyaman mobil tersebut dikendarai, orang akan menilainya bahwa mobil tersebut akan semakin berkualitas dan jelas. Apa yang terjadi dalam diri manusiapun juga demikian. Kualitas diri seseorang bisa dilihat dari dampak dari sistem psikologi yang terjadi di dalam diri orang tersebut. Dampak tersebut adalah emosi. Jika dampak yang tampak adalah emosi positif, semakin positif emosi seseorang, semakin orang tersebut akan merasakan kualitas dirinya yang semakin tinggi. Termasuk juga orang-orang yang berada disekitarnya. Sebaliknya, jika emosi negatif yang keluar sebagai dampak, orang tersebut akan merasakan kualitas dirinya semakin buruk pun demikian orang-orang yang ada disekitarnya. Dalam psikologi Al-Fatihah emosi yang positif terdiri dari tiga emosi utama, yaitu bahagia, sabar/ tidak marah, dan semangat. Adapun emosi yang negatif terdiri dari 3 emosi utama, yaitu sedih/kecewa, marah, dan malas. Jurnal Psikologi Islam, Vol. 4, No. 2 2017 107—120 112 Elemen Dampak dalam Sistem Psikologi Al-Fatihah Dalam sistem psikologi Al-Fatihah, emosi merupakan bagian dari dampak atas sistem psikologi beradasarkan cerminan ayat ke-7 yaitu Artinya "yaitu Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat". QS. Al-Fatihah 7 Ayat tersebut menunjukkan bahwa seharusnya manusia memiliki dimensi perasaan yang terdiri dari tiga hal, yang pertama adalah bahagia karena diberi nikmat, yang kedua adalah tidak marah agar tidak dimurkai oleh Allah , dan yang ketiga adalah memiliki semangat yang tinggi untuk belajar agar tdak menjadi orang yang sesat. Perasaan bahagia, tidak marah, dan motivasi adalah ciri dari orang yang didalam konsep psikologi disebut dengan sehat mental. Hal ini sejalan dengan konsep sehat mental menurut Zakiah Daradjat bahwa Sehat mental Menurut Zakiah Daradjat, adalah terhindarnya seseorang dari gejala-gejala gangguan dan penyakit jiwa, dapat menyesuaikan diri, dapat memanfaatkan segala potensi dan bakat yang ada semaksimal mungkin dan membawa kepada kebahagiaan bersama serta mencapai keharmonisan jiwa dalam hidup. Orang yang mampu menyesuaikan diri, tidak akan ada amarah dalam dirinya, karena dia bisa menyesuaikan diri. Memanfaatkan potensi dan bakat juga tidak akan tampak jika tidak ada semangat. Sama juga dengan konsep 3 emosi positif dalam surat Al-Fatihah jika dihubungkan dengan dari ketetapan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO tentang 9 kriteria orang yang sehat mental, yaitu Efisiensi mental, Pengendalian dan Integrasi antara pikiran dan perilaku, Integrasi motif serta mampu mengendalikan konflik & frustrasi, Perasaan dan emosi yang positif dan sehat, Ketenangan dan kedamaian pikiran, Sikap yang sehat jauh dari pesimisme, putus asa, dsb, Konsep diri Self concept yang sehat, Identitas Ego yang tepat dan seimbang, Hubungan yang tepat dengan kenyataan realita. Definisi ini jelas terangkum dari 3 perasaan yang muncul dalam surat Al-Fatihah tadi, bahagia, tidak marah, dan penuh semangat belajar. Dengan kata lain, gabungan 3 dimensi perasaan ini sebenarnya bisa mengarahkan manusia pada sisi manusia yang baik, dan sebaliknya adalah sisi manusia yang jahat. Pada diri seorang perampok, apakah dia bahagia saat melakukan aksinya? Bisa jadi ya atau tidak. Tapi kita tidak akan pernah menemukan perampok yang menodongkan senjatanya tanpa ekspresi marah. Selain itu, dia pasti orang yang malas untuk melakukan kegiatan lain yang baik dan halal. Orang yang di dalam kehidupan sehari-harinya diliputi rasa bahagia, tidak gampang marah, dan memiliki semangat belajar adalah orang yang sehat mentalnya dan jauh dari penyakit mental. Seharusnya inilah yang menjadi ciri seorang muslim. Sebaliknya orang yang sehari-harinya diliputi kesedihan, amarah, dan malas adalah orang yang sedang dilanda sakit mental, semakin sering frekuensinya, semakin lama durasinya, dan semakin intens perasaan Jurnal Psikologi Islam, Vol. 4, No. 2 2017 107—120 113 tersebut muncul semakin parah sakit mental yang dialaminya. Berdasarkan dominansi perasaan, kita juga bisa membedakan, individu mana yang berkualitas dan yang tidak. Tiga perasaan ini adalah jawaban dari doa yang kita panjatkan pada Allah seperti yang tercantum dalam Al-Fatihah ayat 6, “Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus”. Sedangkan kita membaca surat Al-Fatihah 17 kali dalam sehari minimal dari 17 rakaat 5 sholat wajib, belum lagi jika sholat sunnah. Artinya jika seorang muslim masih belum didominasi 3 perasaan utama dampak sistem psikologi Al-Fatihah maka dia adalah orang yang merugi. Ibaratkan seseorang yang sedang haus, kemudian dia pergi ke warung untuk memesan satu gelas es jeruk, 17 kali orang tersebut pesan, namun tidak pernah satu gelaspun dia minum. Suatu perbuatan yang sia-sia. Oleh karena itu, saat ada anak kecil melakukan perbuatan yang tidak diinginkan orang tuanya, kemudian orang tuanya marah, pantaskah itu? Jika ada siswa datang ke sekolah lupa membawa buku, kemudian guru tersebut marah-marah, bukankah ini juga termasuk perbuatan yang sia-sia? Elemen Hasil atau Output dalam Sistem Psikologi Al-Fatihah Dampak adalah efek lebih lanjut dari adanya output atau hasil. Artinya hasil ini sebenarnya adalah prakondisi yang harus ada. Lantas pra kondisi apa yang harus tersedia agar rasa bahagia, tidak marah dan semangat sebagai dampak bisa muncul. Surat Al-Fatihah ayat 6 menjelaskan hal ini. Artinya “Tunjukilah kami jalan yang lurus” QS. Al-Fatihah 6 Orang yang senantiasa tindakan dan pikirannya berada di jalan yang lurus seharusnya akan diliputi dengan kebahagiaan, tidak mudah marah, dan semangat yang tinggi dalam bertindak. Mengapa demikian, seperti yang disebutkan oleh Prof. Hamka Hamka, 1982, ada 4 jalan lurus yang dimohonkan pada Allah, yang pertama adalah Al-Irsyad dianugerahi kecerdikan dan kecerdasan, kedua at-Taufiq berkesesuaian hendaknya dengan apa yang direncanakan Tuhan, ketiga al-Ilham petunjuk supaya dapat mengatasi sesuatu yang sulit, dan keempat ad-Dilalah Ditunjukkan dalil-dalil dan tanda-tanda dimana tempat bahaya, dimana yang tidak boleh dilalui, dan sebagainya. Tidak bisa dipungkiri bahwa kebahagiaan seorang muslim, bagaimana dirinya menjadi orang yang sabar atau tidak mudah marah, dan semangat dalam dirinya adalah hidayah dari Allah Hadi, 2008. Jika Allah sudah memberikan kecerdasan, kehendak kita sesuai dengan rencana Allah, ada petunjuk untuk mengatasi sesuatu hal yang sulit, dan ditunjukkan tanda-tanda tempat yang berbahaya, maka apalagi yang bisa membuat perasaan kita sedih, marah, dan malas dalam menjalani kehidupan ini. Kecerdasan banyak dibahas oleh ilmuan psikologi barat dengan indikasi IQ Intelligence Quotient, bahkan saat ini sudah berkembangan menjadi EQ Emotional Quotient, SQ Spiritual Quatient, dan Multiple Intelligence Kecerdasan majemuk. Semua bentuk kecerdasan mengarah pada kemampuan seseorang atau kapasitas mental seseorang dalam berfikir sehingga bisa menemukan solusi atas setiap masalah yang dihadapi. Jika semua masalah kita Jurnal Psikologi Islam, Vol. 4, No. 2 2017 107—120 114 bisa diselesaikan, perasaan kita pasti bahagia, jelas tidak ada marah, dan pasti kita akan hidup dengan lebih bersemangat. Lantas bagaimana kita bisa mendapatkan petunjuk ke jalan yang lurus tersebut. Al-Fatihah menjelaskannya di ayat yang ke-5. Elemen Proses dalam Sistem Psikologi Al-Fatihah Al-Fatihah ayat 5 berbunyi sebagai berikut Artinya "Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan". QS. Al-Fatihah 5. Jika ingin berjalan di jalan yang lurus, jika ingin Allah mengabulkan permohonan kita agar ditunjukkan ke jalan yang lurus, kita perlu melakukan 2 hal ini. Menyembah Allah dan sekaligus memohon pertolongan kepada Allah. Pertanyaannya kemudian, seperti apa menyembah Allah tersebut? Prof. Hamka lebih cenderung mengartikan menyembah sebagai ibadat yang bermakna memperhambakan diri dengan penuh keinshafan dan kerendahan serta dipatrikan lagi dengan cinta pada Allah. Secara psikologis, ayat ini mengandung 2 dimensi, yaitu dimensi perilaku manusia yang didasarkan atas cinta kasih, kerendahan, dan keikhlasan kita pada Allah bisa bermakna ibadah. Yang kedua adalah dimensi komunikasi, yaitu bagaimana kita berkomunikasi dengan Allah melalui doa yang kita panjatkan kepadaNya. Dimensi perilaku mengarahkan manusia harus melakukan sesuatu dalam hidupnya, bergerak, dan bertindak untuk berbuat baik, dengan kata lain adalah ibadah. Bagaimana bisa ibadah, karena apapun yang kita lakukan, gerakkan, dan tindakan kita adalah untuk menyembah Allah. Apa yang kita ibadahkan hendaknya bisa menutupi apa yang ada di dalam rukun Islam yang lima, yaitu bersyahadat, sholat, puasa, zakat, dan naik haji. Terkait dimensi komunikasi, ini adalah dimensi yang tidak bisa kita lepaskan dari dimensi perilaku sebelumnya. Karena dengan komunikasi inilah, yang akan menjamin adanya kedekatan yang kuat antara kita dan Allah sebagai Tuhan kita. Tidak hanya dalam konteks hablum minallah, tapi juga dalam konteks hablum minannas. Berbuat baik dalam konteks hablum minannas, bisa dalam bentuk apapun tapi yang jelas sebagaimana dalam rukun Islam, berbuat baik pasti dituntut melakukan pengorbanan. Jadi agar kita bisa berbuat baik dengan orang lain, maka kita perlu mengorbankan waktu, tenaga, kebutuhan pribadi, dan bisa juga finansial. sepertihalnya saat kita sholat, kita harus mengorbankan waktu. Saat puasa, kita harus mengorbankan kebutuhan makan, minum, dan seksual. Demikian pula pada zakat, harta yang harus kita korbankan. Bahkan saat haji pun semuanya akan kita korbankan. Demikian pula saat mencuci piring, akan bisa diartikan berbuat baik karena kita sudah mengorbankan waktu dan tenaga kita untuk anak atau istri. Jika hal ini digabungkan dengan dimensi komunikasi yang baik, akan tercipta kedekatan yang kuat antara kita dengan istri, anak, teman, guru, siswa, tetangga, hingga rekan kerja, maupun juga dengan siapapun dan inilah yang akan membawa pada kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahagiaan yang juga diikuti dengan kesabaran serta semangat belajar untuk mengembangkan diri. Ibadah dimensi perilaku/perbuatan yang baik yang Jurnal Psikologi Islam, Vol. 4, No. 2 2017 107—120 115 dibagabung dengan doa dimensi komunikasi yang baik akan menghasilakan kedekatan kita dengan Allah Tuhan pencipta kita. Maka jika kita dekat dengan-Nya, apalagi yang membuat perasaan ini menjadi tidak bahagia. Perbuatan dan komunikasi yang baik juga seharusnya tidak lepas dari perbuatan dan komunikasi yang bisa membuat orang lain akan merasa bahagia, tidak marah, dan lebih bersemangat dalam hidupnya untuk mengembangkan diri. Bisa dibayangkan jika hal ini dilakukan oleh para orang tua dan guru di sekolah serta para pemimpin negeri ini. Bukan ancaman, intimidasi atau bahkan hukuman yang justru membuat orang lain menjadi sedih atau kecewa, marah, atau mengalami demotivasi dalam konteks edukasi. Demikian itulah aspek proses dari sistem psikologi Al-Fatihah. Semakin sering kita menerapkannya semakin dekat kita akan dikabulkannya doa, “Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus”. Hanya dengan memaksimalkan dimensi perilaku baik dan berkomunikasi yang baiklah semua masalah akan bisa diatasi. Semakin kita banyak berbuat baik dan berkomunikai yang baik, maka akan memberikan output petunjuk ke jalan yang lurus. Dengan petunjuk Allahlah kita akan merasakan dampak tercapainya dimensi perasaan bahagia, tidak marah, dan semangat belajar. Elemen Input dalam Sistem Psikologi Al-Fatihah Aspek input ini adalah dimensi kognitif dalam diri manusia. Apa yang menyelimuti pikiran seseorang. Bagi seorang montir sepeda motor, apa yang menyelimuti dalam pikirannya pasti pengetahuan tentang mekanisme sepeda motor tersebut. Dengan pengetahuannya ini, akan muncul kepercayaan diri dan keberanian untuk melakukan servis pada sepeda motor yang mengalami kerusakan. Bagi seseorang yang capek setelah jauh berlari, aspek kognitif ini bisa menjadi tempat bersandar yang empuk dan kuat untuk melepas lelah. Apa yang kita yakini terhadap sesuatu hal akan mempengaruhi cara kita bertindak dan berkomunikasi dengan dan tentang hal tersebut. Seperti halnya montir tentang sepeda motornya ataupun seorang dokter tentang penyakit pada pasiennya. Nah tentang manusia terhadap dirinya pun dia harus meyakini sesuatu. Agar manusia bisa bahagia, harus ada keyakinan tentang siapa sebenarnya yang menciptakannya, siapa yang merawatnya, dan bagaimana semua itu berproses. Al-Fatihah menjelaskan tentang aspek input ini berupa dimensi kognitif tentang Allah dan sifat-sifat-Nya. Seperti yang tertuang dalam ayat 1-4, yaitu Artinya "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan". QS. Al-Fatihah1-4. Ayat ini menegaskan tentang dimensi kognitif yang ada di dalam pikiran kita. Keyakinan kita akan sifat-sifat Allah inilah yang justru akan menjadi bahan bakar yang paling efektif agar dalam proses psikologi kita berjalan dengan baik dan maksimal. Jurnal Psikologi Islam, Vol. 4, No. 2 2017 107—120 116 Ada tiga sifat Allah yang disebutkan dalam ayat 1-4 ini, yaitu yang pertama adalah arrahman dan arrahiim Maha Pengasih dan Maha Penyayang, rabbil alamiin Tuhan sekalian alam, dan maliki yaumiddiin Penguasa Hari Pembalasan. Saat kita meyakini bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang kita pasti secara sadar yakin bahwa Allah akan memberikan segala hal yang baik-baik bagi hambaNya, tidak akan memberikan yang jelek-jelek, pasti akan memberikan yang bermanfaat, bukan yang memberikan kerugian. Jika ini yang pertama kita yakini, apalagi yang membuat kita merasa tidak bahagia dan bersedih, jika semua hal yang baik-baik diberikan kepada kita semua. Kemudian jika kita yakin bahwa Allah kita beri puji-pujian sebagai bentuk pengakuan bahwa tidak ada Tuhan yang bisa melakukan hal apapun kecuali Allah, lantas apalagi yang membuat kita marah ketika apa yang kita inginkan tidak terpenuhi atau ada kesulitan yang kita hadapi, bukankah tidak ada satu helai daunpun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah. Terakhir adalah jika kita yakin hanya Allah yang menguasai hari pembalasan, apakah pantas kita menjadi orang yang putus asa, malas, dan tidak mau melakukan sesuatu? Jelaslah bahwa sebenarnya tidak ada yang sia-sia dari apa yang kita lakukan, walaupun itu sebesar biji dzarrah. Dimensi perilaku dan komunikasi Proses yang didasarkan atas dimensi kognitif input karena Allah akan melahirkan keTauhidan yang bisa membawa kita pada petunjuk ke jalan yang lurus output yang jelas selanjutkanya akan membawa kita pada kebahagiaan yang sesungguhnya impact. Kita melakukan sholat karena Allah ini adalah ibadah, kita puasa, kita zakat, bahkan kita mencuci piring, menyapa teman bisa bermakna ibadah jika karena Allah. Kita berkomunikasi dengan tekan akan bermakna doa yang akan membawa kita kepada kebahagiaan yang sesungguhnya jika dalam pikiran kita diselimuti sifat-sifat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Tuhan Sekalian Alam, dan Penguasa Hari Pembalasan. Kesehatan Mental William Glasser menyampaikan pendapatnya tentang orang yang sehat mental, yaitu Anda termasuk orang yang sehat mental jika Anda mampu menikmati saat-saat bersama dengan sebagian besar orang yang Anda kenal, terutama dengan orang-orang yang berharga dalam kehidupan Anda seperti keluarga dan sahabat. Anda umumnya menyukai sesama manusia dan memiliki keinginan yang lebih untuk membantu anggota keluarga, teman, atau kolega yang tidak bahagia hingga bisa merasa lebih baik. Anda mampu menjalani sebagian besar hidup Anda terbebas dari rasa tegang, sering tertawa, dan jarang menderita karena rasa sakit atau pilu, karena Anda menganggap sebagian besar orang juga menerimanya sebagai bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihindari. Anda bisa menikmati hidup Anda dan tidak ada masalah untuk menerima orang lain yang berbeda dengan Anda. Berikutnya adalah Anda masih berpikir untuk bagaimana mengkritik atau mencoba merubah seseorang. Anda memiliki kreatifitas terkait apa yang sedang Anda kerjakan dan bisa lebih menikmati potensi yang ada Jurnal Psikologi Islam, Vol. 4, No. 2 2017 107—120 117 dalam diri Anda. Terakhir, walaupun Anda berada dalam situasi yang sulit sehingga Anda menjadi merasa tidak bahagia – karena tidak ada seorangpun yang bisa bahagia di setiap saat – Anda bisa mengetahui mengapa Anda merasa tidak bahagia dan Anda akan berusaha melakukan sesuatu agar bisa bahagia. Anda bahkan mungkin saja cacat secara fisik, seperti aktor Christopher Reeve, namun Anda masih mampu memenuhi kriteria sehat mental di atas. Glasser, 2003. Berdasarkan pendapat tersebut tampak bahwa sebenarnya orang yang memenuhi sehat mental adalah yang memiliki perasaan bahagia dan bisa menikmati hidupnya. Namun, menurut Al-Fatihah, orang yang sehat mental bisa menjadi lebih sempurna namun sederhana dan mudah untuk dipahami. Sehat mental adalah sebuah kondisi dimana seseorang yang senantiasa memiliki perasaan bahagia karena merasakan adanya nikmat, tidak marah atau sabar, dan memiliki semangat untuk terus mengembangkan diri dalam rangka menyampaikan komunikasi dan perilaku yang baik berdasarkan keimanan kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Robbul Alamiin, dan Penguasa Hari Pembalasan. Menjadi orang yang sehat mental cukup sebenarnya menyatukan tiga perasaan berikut dalam diri individu dan jangan terpisahkan satu dengan yang lain, yaitu bahagia, tidak marah, dan semangat belajar. Kehilangan salah satu dari tiga perasaan ini, apalagi tiga-tiganya sudah bisa mengindikasikan jauhnya seseorang dari nikmatnya hidup. Gangguan Mental Gangguan mental adalah kondisi yang berbanding terbalik dengan sehat mental. Jadi menurut Psikologi A-fatihah menjadi lebih gamblang bahwa orang yang senantiasa diliputi rasa sedih, marah, dan malas. Semakin sering, semakin dalam, dan semakin lama seseorang mengalami perasaan ini maka semakin parah sebenarnya gangguan mental yang dialaminya. Dalam taraf yang lebih rendah sebenarnya juga bisa disebutkan bahwa orang sekali saja merasa sedih atau kecewa, merasa marah, ataupun malas untuk berbuat seseatu kebaikan hal ini juga menunjukkan adanya gangguan mental yang rendah. Seperti halnya fisik yang mengalami gangguan ringan dengan batuk atau bersin karena ada penyakit yang masuk dalam dirinya. Dengan kata lain, saat sekli rasa sedih, marah, dan malas, jika salah satunya muncul, ini menunjukkan sebuah early warning system dalam sistem psikologi kita bahwa kita sudah harus melakukan sesuatu untuk mengobatinya menjadi perasaan senang, sabar, ataukah semangat kembali. Membiarkan perasaan negatif tersebut sama halnya dengan membiarkan penyakit ringan muncul tanpa terobati yang selanjutnya akan muncul penyakit kronis dan akut. Seperti halnya William Glasser 2003 yang tidak percaya dengan adanya DSM yang hanya berupa kumpulan penyakit mental akut dan kronis, dia hanya yakin bahwa “the long lasting psychological problem is relationship problem” maka sebenarnya ummat muslim cukup memahami masalah psikologis melalui emosi negatif yang muncul, jangan sampai menunggu menjadi akut atau kronis seperti yang ada dalam DSM. Jika perasaan negatif tersebut muncul segeralah untuk melakukan evaluasi diri tentang apakah proses psikologi yang kita Jurnal Psikologi Islam, Vol. 4, No. 2 2017 107—120 118 jalankan sudah baik, ataukah justru karena input niat yang tidak karena Allah SWT. Konseling berbasis Psikologi Al-Fatihah Setelah memahami sistem psikologi berbasis Al-Fatihah, memahami bagaimana menjadi sehat mental serta bagaimana menjadi gangguan mental, psikolog bisa mengajarkan hal ini pada klien untuk membantu klien membangun kebahagiaan-meninggalkan kesedihan, menjadi orang orang yang sabar-meninggalkan marah, serta menjadi orang yang lebih bersemangat untuk belajar meningkatkan kualitas diri-bukan malas untuk bergerak berbuat dan berkomunikasi, serta memastikan bahwa klien bisa meningkatkan keimanannya pada Allah dengan prinsip sifat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, Robbul Alamiin, dan Penguasa hari pembalasan adalah substansi dari konseling berbasis Psikologi Al-Fatihah. DISKUSI Psikologi Al-Fatihah berdasarkan literatur review yang dilakukan menunjukkan suatu keniscayaan bagaimana psikologi Islam bisa memberikan kontribusi yang lebih nyata ke dalam keilmuan psikologi. Psikologi Al-Fatihah memiliki landasan ontologis, epistimologi, dan aksiologis untuk dikategorikan sebagai sebuah ilmu. Sudah barang tentu, sebagai sebuah ilmu, kajian maupun penelitian secara empiris mutlak diperlukan untuk memastikan kajian ini mencapai kesempurnaan. Limitasi dari kajian ini memang masih berupa kajian subjektif penulis berdasarkan pengalaman dan perbandingan dengan menggunakan kajian choice theory sejauh yang dipahami penulis. Meskipun demikian, kajian ini masih belum pernah dilakukan sebelumnya terkait menggunakan Al-Fatihah sebagai basis kajian untuk membentuk sebuah teori psikologi. Kedepan, penulis berharap, peneliti-peneliti muslim untuk bisa menggunakan kajian ini dalam rangka memberikan dampak yang lebih besar bagi kemaslahatan ummat. Sebagaimana diungkapkan oleh Sabry & Vohra, 2013 bahwa seiring dengan bertambahnya populai umat muslim di dunia, kebutuhan layanan kesehatan mental yang sesuai dengan kelompok pasien semakin meningkat pula. Penelitian menunjukkan keefektifan dari integrasi spiritualitas dan religiusitas kedalam psikoterapi dn bagaimana keyakinan agama bisa mempengaruhi rencana manajemennya. KESIMPULAN Dari penjelasan tersebut bisa dijelaskan bahwa memahami diri manusia secara komprehensif sangat penting untuk membawa manusia mengalami kebahagiaan yang sesungguhnya. Menjalani hidup dalam skema psikologi Al-Fatihah akan membawa pada kebahagiaan diri individu yang sebenarnya. Jika seorang individu mampu mendominasi ekspresi emosinya dengan kebahagiaan, tidak marah dan penuh semangat, maka orang disekitarnya, terutama guru pada siswanya dan orang tua pada anaknya, akan belajar tentang bagaimana membuat orang lain bahagia, menjadi pribadi yang sabar, dan juga penuh semangat. Oleh karena itu, penting untuk mengajarkan psikologi Al-Fatihah dalam praktek psikologi di Indonesia dan mengajarkan psikologi Al-Fatihah di dalam dunia akademik kampus untuk membantu sarjana atau mahasiswa psikologi lebih memahami psikologi manusia berdasarkan nilai-nilai keislaman. Jurnal Psikologi Islam, Vol. 4, No. 2 2017 107—120 119 DAFTAR PUSTAKA Beck, R., & Fernandez, E. 1998. Cognitive-behavioral self-regulation of the frequency, duration, and intensity of anger. Journal of Psychopathology and Behavioral Assessment, 203, 217–229. Gautama, W. 2016, September 20. Polisi panggil tiga anggota dewan terkait bentrok di kantor Golkar Lampung. Dipetik Agustus 20, 2017, dari Glasser, W. 1998. Choice theory A new psychology of personal freedom. New York Harper Perennial. Glasser, W. 2003. Warning Psychiatry can be hazardous to your mental health. New York Quill. Hadi, S. 2008, Juni 30. Orang-orang yang tidak mendapat hidayah Allah. Dipetik Agustus 3, 2017, dari Hamka. 1982. Tafsir al-Azhar 1 ed., Vol. Juz 1. Jakarta Pustaka Panjimas. 2014, Januari 2. Angka kekerasan di dunia pendidikan meningkat. Dipetik Agustus 3, 2017, dari Sabry, W. M., & Vohra, A. 2013. Role of Islam in the management of psychiatric disorders. Indian Journal of Psychiatry, 552, 205-214. doi Jurnal Psikologi Islam, Vol. 4, No. 2 2017 107—120 120 ... One of the recently presented Islamic Psychological approaches is Al-Fatihah Psychology Ansyah & Hadi, 2017. This science studies human psychology as a system used to achieve true happiness based on surah Al-Fatihah Ansyah & Hadi, 2017. ...... One of the recently presented Islamic Psychological approaches is Al-Fatihah Psychology Ansyah & Hadi, 2017. This science studies human psychology as a system used to achieve true happiness based on surah Al-Fatihah Ansyah & Hadi, 2017. Additionally, Ansyah & Hadi 2017 stated that this concept could be used as a basis for describing, maintaining, or improving mental disorders and can be developed into a counseling method. ...... This science studies human psychology as a system used to achieve true happiness based on surah Al-Fatihah Ansyah & Hadi, 2017. Additionally, Ansyah & Hadi 2017 stated that this concept could be used as a basis for describing, maintaining, or improving mental disorders and can be developed into a counseling method. Ansyah & Hadi 2017 proposed Al-Fatihah psychological concept, based on the research carried out by Hamka. ...The study aims to determine whether counseling based on Al-Fatihah psychology can reduce student academic stress due to the covid-19 pandemic. This experimental pre-post design study comprises the experimental and control groups. The participants are 23 people selected using the purposive sampling method. The experimental group consisted of 11 people and was given treatment in counseling based on Al-Fatihah psychology for 4 weeks in 5 sessions. The academic stress scale was given to both groups as a pre-test before the treatment started in the experimental group. In contrast, the academic stress scale was given as a post-test after the last session. The data analysis's result using the Mann-Whitney U test on the gain score between the experimental and control groups showed a significant difference with p < This indicates that counseling based on Al-Fatihah psychology effectively reduced students' academic stress levels during the pandemic.... Keenam, surat Al-Fatihah merupakan al-waqiyah pemelihara dari kesesatan karena surat Al-Fatihah melengkapi surat yang lain. Keistimewaan yang keetujuh adalah mulai dari ayat pertama hingga ayat terakhir mengejarkan tentang pokok ajaran islam sejati yaitu tauhid Ansyah & Hadi, 2017. Al-Jauziah 2011 juga menyebutkan bahwa Al-Fatihah memiliki nama lain, yaitu asy-syafiyah penyembuhan yang artinya surat Al-Fatihah memiliki potensi terapeutik yang dapat digunakan untuk mengatasi gangguang psikologis. ...This study aims to observe the effectiveness of therapy of reflective-intuitive reading of Al-Fatihah in reducing the depression of autoimmune survivors. It used the quasi-experiment with the pre-test-posttest control group design – not non-randomized pretest-posttest control group design. The subjects involved in this study were the female Moslems becoming the survivors of one of the autoimmune diseases. Here, the level of depression of the subject was measured using the Depression Anxiety Stress Scale DASS sub-test of depression developed by Lovibond and Lovibond, adapted into the Indonesian language. The implementation of the therapy refers to the module of reflective-intuitive reading of Al-Fatihah developed by the researcher and team by referring to the module owned by Maulana, Subandi and Astuti. Data analysis used the Mann Whitney U-Test to determine the difference in the depression level in the experimental group before and after the intervention compared to the control group. The study results showed that therapy of reflective-intuitive reading of Al-Fatihah effectively reduced the level of depression of autoimmune survivors after passing the changing process taking a particular time.... Moreover, the school in this study is based on religion. Whereas religious approaches such as psychology of al-Fatihah, stated it can help to improve the happiness of teachers and students which can also lead to student learning achievement [24]. ...Agung SetiyawanMoh. Ainin Uril BahruddinAhmad Arifin B. SaparSurah Al-Fatikhah is very important to understand, because this surah is the main surah in the Qur’an which contains several hidden meanings that need to be understood by every Muslim. Surah Al-Fatikhah must be read in every prayer, but several people do not understand its meaning. This paper aimed to reveal the secrets of sentence phrases in the Surah Al-Fatikhah. The research data were obtained from several classical books tafsir and several journal articles discussing Surah Al-Fatikhah. The results showed that Surah Al-Fatikhah contains an implicit message which is reflected in 3 main points, namely 1 the sentence, such as deleting alif in the bismillah sentence, the use of "al" in the word Hamdu’ and Alamin’ 2 the word choice, such as the use of the word al-Rahman, al-Rahim, Rabb al-'Alamin, Malik, Yaum al-din , al-Sirat, al-Mustaqim, al-Magdub, and al-Dallin and 3 sentence structure such as a statement in the form of a sentence with the intention of the command used in the sentence al-Hamdu lillahi Rabbil Alamin, especially an objective in the expression of “Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta’in” as in the study of Balagah chapter al-Qasr in Ma'ani, and equating the word “al-Sirat al-Mustaqim” with al-Din al-Ḥaq as in the study of Balagah chapter al-Majaz in Bayan. Therefore, through this research, by understanding the meaning of the message contained in the Surah Al-Fatikhah, it would hopefully help a Muslim become more motivated in performing Yuniar Trisya Eko Hardi AnsyahPenelitian ini dilatar belakangi oleh adanya fenomena mahasiswa yang mengalami kecemasan menghadapi ujian proposal skripsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara religiusitas dengan kecemasan menghadapi ujian proposal skripsi pada mahasiswa semester 7 Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Variabel yang terdapat pada penelitian ini adalah religiusitas sebagai variabel bebas dan kecemasan menghadapi ujian proposal skripsi sebagai variabel terikat. Penelitian ini dilakukan di Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dengan jumlah sampel dalam penelitian ini 195 mahasiswa yang diambil dengan menggunakan teknik Sampling Insidental yaitu dimana teknik penentuan sampel ini berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/tidak sengaja bertemu dengan peneliti dapat dijadikan sebagai sampel apabila orang yang ditemui cocok menjadi sumber data. Analisis data dilakukan dengan teknik korelasi Spearman’s Rho menggunakan bantuan program SPSS 20 for windows. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan negatif antara religiusitas dengan kecemasan menghadapi ujian proposal skripsi. Artinya, semakin tinggi religiusitas yang dimiliki mahasiswa maka semakin rendah kecemasan menghadapi ujian proposal skripsi yang dialami mahasiswa. Jadi, hipotesis awal yang peneliti ajukan dapat Beck Ephrem FernandezWithin a self-regulation format, cognitive, behavioral, and combined cognitive-behavioral techniques were evaluated for effects on the frequency, duration, and intensity of anger. Twenty-seven subjects randomly assigned to three groups each received one of the three treatments after a baseline of self-monitoring and then completed another phase of self-monitoring. Results revealed a significant reduction in the frequency and duration of anger but not anger intensity under self-intervention, regardless of treatment type. These effects were preserved for a week following treatment. Thus, self-regulation may prevent incidents of anger and even cut short the persistence of anger, but once anger occurs, it tends to register about the same maximum intensity; this peak intensity is typically reached at the onset of the anger which then wanes at a decreasing rate over time. Further research is called for to determine the long-term durability of the treatment gains obtained and the generalizability of these findings in clinical panggil tiga anggota dewan terkait bentrok di kantor Golkar LampungW GautamaGautama, W. 2016, September 20. Polisi panggil tiga anggota dewan terkait bentrok di kantor Golkar Lampung. Dipetik Agustus 20, 2017, dari theory A new psychology of personal freedomW GlasserGlasser, W. 1998. Choice theory A new psychology of personal freedom. New York Harper Psychiatry can be hazardous to your mental healthW GlasserGlasser, W. 2003. Warning Psychiatry can be hazardous to your mental health. New York yang tidak mendapat hidayah AllahS HadiHadi, S. 2008, Juni 30. Orang-orang yang tidak mendapat hidayah Allah. Dipetik Agustus 3, 2017, dari kekerasan di dunia pendidikan 2014, Januari 2. Angka kekerasan di dunia pendidikan meningkat. Dipetik Agustus 3, 2017, dari of Islam in the management of psychiatric disordersW M SabryA VohraSabry, W. M., & Vohra, A. 2013. Role of Islam in the management of psychiatric disorders. Indian Journal of Psychiatry, 552, 205-214. doi
Pendidikan pada intinya berada pada hubungan pendidik dan peserta didik. Apabila dua personal ini tidak ada, pendidikan hampir dapat dikatakan tidak ada. Namun lebih lengkapnya, sejatinya pendidikan membutuhkan komponen lain seperti kurikulum, sarana prasana, dan lingkungan. Hubungan keduanya menjadi penguat dalam pengembangan pengetahuan. Begitu pula, pada sisi perilaku dan keterampilan. Keduanya adalah makhluk Tuhan yang menapaki jalan kehidupan untuk mengimplementasikan tugas kekhalifahan. Pendidikan dalam kaitan ini menjadi wujud untuk menjalankan misi ketuhanan dalam memakmurkan bumi. Guru sebagai pendidik dan murid sebagai peserta didik seolah berada dalam panorama indah menjamah pengetahuan dalam nuansa titah yang mulia. Guru dan murid menjadi mulia. Keduanya mendapatkan porsi terhormat karena terus menerus menapaki petunjuk untuk kemaslahatan hidup. Guru dan murid menggunakan potensi yang diberikan oleh-Nya. Akal diarahkan untuk meraih ilmu. Hati diarahkan untuk berperilaku mulia. Anggota badan diarahkan untuk keterampilan. Keduanya memanfaatkan dan mengerahkan potensi yang diberikan oleh-Nya. Seolah, mereka sedang memuji Allah Swt yang telah memberikan anugerah yang luar biasa. Bisakah pendidikan itu memuji diri-Nya? Alhamdulillahi, Pujian Hanya Milik-Nya Sering kali kita mengucapkan alhamdulillahi rabbil alamin. Minimal, kita mengucapkan sebanyak 17 kali dalam salat sehari semalam. Lantunan kalimat ini bukan sekedar rukun dalam salat. Ia sejatinya menjadi pendorong kesadaran pada pembacanya. Pujian hanya milik-Nya. Sebagai manusia, biasanya kita memuji pada orang yang memberikan kebaikan atau memiliki keutamaan. Tak biasanya, rasanya bila kita memuji pada orang yang menghina atau berbuat buruk. Pujian itu positif, bukan berasal dari yang negatif. Pujian pasti diarahkan secara positif pada orang yang berbuat baik, bukan sebaliknya. Kalimat ini berada pada QS al-Fatihah. Ia disebut setelah ayat basmalah, bismillahir rahmanir rahim. Sebuah ayat yang menunjukkan bahwa Allah Swt Maha Penyayang dan Maha Pengasih. Dia telah memberikan kebaikan pada seluruh makhluk-Nya. Kebaikan pasti mendatangkan pujian. Allah Swt memberikan kebaikan dan memiliki kesempurnaan, sehingga yang pantas dipuji hanya diri-Nya. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam” al-Fatihah2 Dalam Tafsir Kemenag 2019 disebutkan bahwa ada ayat ini Allah Swt mengajarkan kepada hamba-Nya agar selalu memuji-Nya. Sebab, al-hamdu artinya pujian, karena kebaikan yang diberikan oleh yang dipuji, atau karena suatu sifat keutamaan yang dimilikinya. Semua nikmat yang telah dirasakan dan didapat di alam ini dari-Nya, sebab Dialah yang menjadi sumber bagi semua nikmat. Hanya Allah Swt yang mempunyai sifat-sifat kesempurnaan. Karena itu Allah Swt sajalah yang berhak dipuji. Muslim yang sadar pasti akan mendorong hatinya untuk memuji diri-Nya. Bukan hanya ucapan, yang itu menunjukkan pujian kepada-Nya. Tapi kesadaran dan perilaku akan indah bila dikaitkan sebagai pujian kepada-Nya. Sikap yang baik dan perilaku yang mulia menjadi cermin pujian karena mewujudkan sesuatu sesuai dengan arah kebaikan-Nya. Perilaku mulia ini dapat terwujud apabila manusia menyadari sebagai khalifah di muka bumi. Pendidikan sangat berperan penting dalam hal ini. Sejatinya memuji Allah Swt menjadi arah pendidikan. Pendidikan mengajarkan, memahamkan, dan mendorong kesadaran untuk berbuat baik, layaknya Allah Swt yang telah memberikan contoh pada ayat-Nya. Pujian kepada-Nya dicirikan dengan penggunanaan potensi yang dikembangkan. Karena, tidak ada satu pun di alam ini yang dapat menciptakan akal, jasad, konasi, dan jiwa kecuali Yang Maha Menciptakan. Pendidikan, guru, dan murid bukan hanya berkisar pada mengajarkan pujian. Ia pun menjadi pusat kesadaran dalam rangkaian pujian kepada-Nya. Sentuh dengan Pujian Murid atau anak akan terus menciptakan produk pemikiran dan perilaku baik, apabila ia dipuji. Setiap hasil belajar layak untuk dipuji. Bukan hanya berkisar nilai angka, namun penumbuhan penghargaan yang positif kepada mereka mendorongnya untuk terus berkembang. Memuji mereka di saat yang tepat sesuai pencapaian akan menumbuhkan semangat untuk membangun diri. Diri yang terbangun positif akan menciptakan peradaban. Sebagaimana, ajaran ayat di atas pujian pada-Nya yang telah mengatur dan mendidik رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ. Guru yang merasakan sisi ketuhanan selayaknya menerapkan pujian untuk meningkatkan semangat membangun. Alam yang diciptakan, kemudian diatur sedemikian rupa oleh-Nya. Frase ini mengajarkan penciptaan, pengaturan, dan pendidikan terhadap kompetensi perlu diupayakan terus menerus untuk menciptakan generasi yang handal. Memuji diri-Nya melalui penciptaan pujian pada murid sebagai makhluk-Nya. Menyentuh hati mereka dengan pujian sejatinya berada dalam medan makna memuji-Nya. Berbeda dengan murka, yang akan menyeret manusia pada kenistaan. Terkecuali bagi mereka yang menyesalinya dan penuh kesadaran untuk berbuat baik. Dari sisi ini, pembaca ayat di atas, terlebih guru akan lebih tersadarkan bahwa pujian lebih berdampak hebat pada perkembangan dibandingkan dengan hukuman. Mungkin ada benarnya, law of effect dari pemikiran Behaviorisme, dalam pujian akan mengembangkan kapasitas insan terdidik untuk mencapai kebaikan dan pencapaian positif. Terlebih, al-Qur’an sudah mengisyaratkan bagi dunia pendidikan sesuai dengan ayat tersebut. Wallahu A’lam. Editor An-Najmi
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ Artinya, “Hanya Kau yang kami sembah, dan hanya Kau yang kami mintakan pertolongan.” Ibadah atau sembah secara harfiah berarti tunduk dan rendah. Sementara dalam agama, ibadah atau sembah adalah gabungan dari rasa cinta, tunduk, dan takut sekaligus sebagaimana keterangan Ibnu Katsir berikut ini العبادة في اللغة من الذلة، يقال طريق مُعَبّد، وبعير مُعَبّد، أي مذلل، وفي الشرع عبارة عما يجمع كمال المحبة والخضوع والخوف. Artinya, “Ibadah pada kata nabudu’ berarti rendah dan hina. Oleh karena itu, ada frase berbunyi tariq muabbad’ atau jalan yang dipersiapkan untuk dilalui bagi pejalan dan bair muabbad’ atau unta yang tunduk, maksudnya dijinakkan. Dalam syariat, ibadah merupakan ungkapan atas gabungan kesempurnaan cinta, ketundukan, dan rasa takut sekaligus.” Ibnu Katsir, Tafsirul Qur’anil Azhim, [Jizah, Muassasah Qurthubah tanpa tahun], juz I, halaman 214. Pendahuluan maf’ul atau objek “iyyaka” daripada predikat verbanya “nabudu” serta pengulangan menunjukkan urgensi, pembatasan dan pengkhususan makna dengan “hanya”. “Kami menyembah hanya kepada-Mu dan berpasrah hanya kepada-Mu.” Ini merupakan puncak ketaatan beragama. Ajaran dan praktik agama sepenuhnya merujuk pada penyembahan dan kepasrahan ini. Tidak berlebihan jika ulama salaf mengatakan bahwa rahasia Al-Fatihah atau sirrul fatihah terletak pada “iyyaka nabudu wa iyyaka nastain”. Lafal “iyyaka nabudu” bentuk bara atau pelepasan diri dari kemusyrikan. Sedangkan “wa iyyaka nastain” bentuk serah dan pasrah daya serta kekuatan kepada Allah.” Ibnu Katsir, tanpa tahun 214-215. Jamaluddin Al-Qasimi dalam tafsirnya, Mahasinut Ta’wil, menerangkan urgensi penggunaan pembatasan dan pengkhususan atau hashr di mana maf’ul didahulukan daripada subjek dan verbanya dalam Surat Al-Fatihah ayat 5. Menurutnya, masyarakat Arab ketika itu memiliki banyak jenis berhala. Sebagian mereka menyembah matahari, bintang, bulan, malaikat, berhala, pohon, batu, bahkan pendeta mereka sebagaimana keterangan Surat Fusshilat ayat 37, Saba ayat 40-41, Al-Maidah ayat 116, Ali Imran ayat 80, An-Najm 19-20, Al-A’raf ayat 138-140, dan At-Taubah ayat 31. Al-Qasimi, 1957 M/1376 H 10-12. Dalam Surat Al-Fatihah ayat 5, digunakan subjek jamak; “iyyaka nabudu wa iyyaka nastain” Hanya Kau yang kami sembah, dan hanya Kau yang kami mintakan pertolongan, bukan tunggal; “iyyaka abudu wa iyyaka astain” Hanya Kau yang kusembah, dan hanya Kau yang kumintakan pertolongan. Ini merupakan pengakuan atas kekurangan, kedaifan, dan kehinaan manusia untuk menghadap di pintu-Nya. Seolah manusia mengatakan, “Tuhanku, aku hanya hamba yang hina dan rendah. Aku tidak layak bermunajat sendiri kepada-Mu. Oleh karenanya, aku menggabungkan diri ke jalan orang-orang beriman yang mengesakan-Mu. Oleh karena itu, kabulkanlah permohonanku di tengah perkumpulan mereka. Kami semua menyembah dan memohon pertolongan-Mu.” As-Shabuni, 1999 M/1420 H jilid I, 27. Penggunaan lafal jamak juga berarti tabarukan atas orang-orang saleh beriman. As-Shawi, tanpa tahun jilid IV, 274. Menurut As-Shawi dalam Hasyiyatus Shawi alal Jalalain, lafal ibadah didahulukan dibanding permohonan pertolongan. Hal ini memberikan pelajaran bahwa ibadah merupakan wasilah atau jalan adab dalam memohon pemenuhan hajat kepada Allah. Dalam Surat Al-Fatihah ayat 5, kita kata Imam At-Thabari dalam tafsirnya, Jamiul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, seolah mengatakan, “Ya Allah, kami tunduk dan merendah kepada-Mu sebagai pengakuan kami atas status ketuhanan-Mu, bukan yang lain. Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan atas praktik ibadah, ketaatan kami kepada-Mu, dan segala aktivitas lain di luar itu. Tiada yang lain untuk itu selain-Mu karena orang menjadi kafir atau durhaka kepada-Mu ketika meminta pertolongan kepada berhala atau apa saja yang dipertuhankan. Kami hanya meminta pertolongan-Mu dalam semua urusan kami dengan ikhlas dalam penyembahan,” At-Thabari, 2000 M/1420 H. Adapun Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya Al-Jami li Ahkamil Qur’an mengatakan bahwa lafal “Wa iyyaka nastain” atau hanya kepada-Mu kami minta pertolongan merupakan bentuk pembebasan diri dari kesombongan dan keangkuhan akan daya dan kekuatan selain Allah. Tafsir Jalalain menerangkan bahwa Surat Al-Fatihah ayat 5 merupakan pengakuan kehambaan murni kepada Allah dalam urusan pengesaan dan ibadah amaliah lainnya yaitu shalat, puasa, zakat, haji, serta permohonan pertolongan murni kepada-Nya untuk menjalankan ibadah dan aktivitas lainnya baik dunia maupun akhirat. As-Shawi, tanpa tahun jilid IV, 274. إيَّاكَ نَعْبُد وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين أَيْ نَخُصّك بِالْعِبَادَةِ مِنْ تَوْحِيد وَغَيْره وَنَطْلُب الْمَعُونَة عَلَى الْعِبَاد وَغَيْرهَا . Artinya, “Lafal iyyaka nabudu wa iyyaka nastain’ berarti, kami menyembah-Mu secara khusus baik dalam urusan tauhid dan urusan lain; kami juga meminta pertolongan-Mu dalam urusan ibadah dan urusan lainnya,’” Jalaluddin, Tafsirul Jalalain, [Beirut, Darul Fikr tanpa tahun]. Ragam Pelafalan Iyyaka Nabudu wa Iyyaka Nastaīn Imam Ibnu Katsir menyebutkan keragaman bacaan seputar Surat Al-Fatihah ayat 5 dalam tafsirnya, Tafsirul Qur’anil Azhim. Imam tujuh qiraat dan mayoritas ulama membaca lafal “iyya” dengan tasydid; “iyyaka nabudu wa iyyaka nastain”. Sedangkan Imam Amr bin Fayid membaca “iya” tanpa tasydid; “iyaka nabudu wa iyaka nastain.” Tetapi bacaan ini terbilang jarang dan ditolak karena secara harfiah “iya” berarti sinar matahari. Sebagian ulama membaca “iyya” dengan fathah pada hamzah dan tasydid; “ayyaka nabudu wa ayyaka nastain.” sementara sebagian ulama lain membaca “iyya” dengan ha sebagai pengganti hamzah; “hayyaka nabudu wa hayyaka nastain.” Mayoritas ulama membaca fathah pada nun “nastain,” kecuali Yahya bin Watsab dan Al-Amasy. Keduanya membaca kasrah pada nun; “iyyaka nabudu wa iyyaka nistain.” Ibnu Katsir, tanpa tahun 214. Wallahu alam. Penulis Alhafiz Kurniawan Editor Abdullah Alawi
ilmu sejati al fatihah